Tanpa Kata

Tanpa kata. Apa, ya, istilahnya?

Ooh, ooh, aku tahu. Itu diam!

Hei, diam? Aku jadi ingat dia yang pendiam.

Dia? Ooh, dia sosok yang membuatku nyaman di dekatnya.

Bukan, bukan. Dia bukan kasur, bantal, ataupun guling yang begitu menggiurkan itu.

Walau yeah, dia menggiurkan. Ooh hei, aku tidak begitu agresif. Hanya yah, kautahu, sedikit tak tahu malu.

Ah malu, ya? Dia juga pemalu.

Kautahu, diam itu pemalu. Benarkan persepsiku?

Kautahu, diam itu lebih menantang. Hei, jangan tegang dulu. Eum well, apa, ya, yang tegang? Haha.

Kautahu, diam itu emas. Mungkin lebih tepatnya begini untukku yang cerewet ini : silent is gold, your silent is my gold.

Kautahu. Hah, apa? Aku juga tidak tahu. Tapi aku menyukainya. Dia tamp–eum cantik, loh!

Hei, aku bukan lesbi, tapi dia memang menyikat perhatian hati. Well, dia pemuda sejati, yang seringkali diam dan membiarkan seorang perempuan bertindak sesuka hati.

Biar tanpa kata, aku dan dia tetaplah kita.

Eh, nyambung nggak, ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s