Sebait Kata

“Senja di ujung mata, membuncahkan air mata, seolah tak rela jika mendung menjadi pihak ketiga, penghalang cintanya kepada bintang yang setia dikedipnya.” Dikadikong Mahardika

“Engkaukah itu pelangi? Yang telah melingkarkan cincin di jemari hujan, di antara senja yang menghujam?” Dikadikong Mahardika

“Pelangi itu membelah langit sempurna tanpa malu, begitu percaya diri seolah tahu bila semua merindu, menebar senyum merengkuh pesona, tapi cuma sementara, sebentar kemudian wajahnya nampak memudar berganti pucat pasi, karena hujan telah berhenti, pelangi pun meregang hilang tak nampak lagi.” Dikadikong Mahardika

“Di ujung senja telah kutautkan, sebuah harap dalam temaram, bantulah aku jingga, agar aku terus berdiri dalam putaran roda yang hampir tiba.” Dikadikong Mahardika

“Jika Pagi, Siang dan Malam adalah manifestasi kebahagiaan, maka mari kita cari tahu dimana senja berada.” Dikadikong Mahardika

“Meskipun saya orangnya tidak lucu, Tuhan kasih saya teman yang lucu sehingga saya bisa tertawa karenanya, saya juga bukan orang pandai dan Tuhan kasih saya temen yang pandai sehingga saya bisa belajar darinya, jika Anda adalah orang baik, Tuhan-pun akan kasih Anda teman yang buruk agar Anda bisa berjuang untuk tidak tergoda menjadi bagiannya.” Dikadikong Mahardika

Sumbernya dari sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s